Jumat, 04 Juli 2014

Roman Picikan

Aku mencintaimu.
Sampai kau bisa membuktikan aku berbohong–atau kau bersikeras bahwa aku berbohong, meski tanpa bukti yang jelas. Lalu aku akan mengucapkan selamat tinggal, meski kau bersikeras masih ingin bersamaku setelah kau pikir aku membohongimu. Kau tidak bisa menerimanya, karena kau pikir setelah kau menyangka bahwa aku berbohong, yang patut meninggalkan adalah kau–dalam hal ini kau ingin menjadi seorang pemaaf dan meninggikan dirimu di depanku sebagai manusia yang arif dan bijaksana. Aku (kau anggap) berbohong, lalu kau memaafkanku (padahal aku tidak salah), dan merasa kau sang maha pengampun (padahal itu tugas Tuhan). Coba pikir sekali lagi, kenapa kau masih ingin bersamaku setelah kau berkesimpulan aku telah membohongimu?

Senin, 16 Juni 2014

Binar Pagi

Selamat Pagi Nona.
Aku mulai tau apa yang membuat pagiku begitu ringan, malam yang aku lalui begitu cepat, dan mimpi mimpi indah yang aku anggap percuma.

Kini aku mendapati senyum dan binarmu setiap pagi. Mungkin aku tidak perlu bermimpi. Cukup bagiku lelap untuk menyegerakan malam berlalu. Hingga aku dapat lebih cepat menikmati keindahan itu.

Jumat, 13 Juni 2014

Rindu Dering Telfon Ibu

Pernah nggak kamu bicara dengan seseorang lalu tiba-tiba terdiam. Kamu ingat seseorang yang begitu menyayangimu. Seseorang yang kadang kamu abaikan karena kesibukanmu. Yang dengan bahagia mengantar dan menyambut kedatanganmu kedunia. Kemudian ada sedikit rasa aneh di hati, bisa bahagia, sedih, terharu, bahkan marah dengan dirimu sendiri. Lalu kamu menangis dalam diam. Aku pernah mengalaminya. Tentang anak yang kadang tidak sadar kalau ibunya bener-bener sayang. 

Sabtu, 07 Juni 2014

Perempuan Bermata Hujan



Aku menyebutmu perempuan bermata hujan.
Meskipun kamu punya kata yang lebih indah dari itu. 

Sebenarnya aku tidak ingin menjulukimu dengan majas apapun. Sendirinmu sudah cukup indah ketika di sejajarkan dengan rona langit. Takkan cukup waktu dan kata untuk memanuskribkan satu persatu. 

Atau mungkin aku sendiri yang tidak mampu membaginya?
Malam ini, debar semarakan rindu yang entah.

Ketika jemariku merapal nada-nada buram, Kamu tersenyum.
Memancarkan binar yang membawa gundah, sementara aku tak sanggup memandang matamu lebih dari dua detik.

Senin, 26 Mei 2014

Lullaby #3 "Mengurung Rindu"

Hay nona, lama kita tak bersua. Tak sadarkah hati ini teresidu. Hingg aku tidak bisa membedakan mana rindu mana kamu.

Hai tuan aku sudah lama mngurung anak-anak rindu agar tak berontak. Mereka tak mau berhenti bergumam merdu bahkan berteriak namamu.
 
Ajaklah keberanda, jelaskan untukku agar tak lagi ia memaki jarak. hingga aku datang dan rindu dapat kembali kau sangkarkan.
 
Sudah hampir malam. jika saja aku bisa melipat jarak, rinduku tak perlu terkantuk kantuk, menunggu nunggu tuan datang mengetuk.
 
Sejenak lipat ia dengan rapih disudut ranjang. mimpi akan menolongmu mengurung rindu, meski nanti akan kembali di usik oleh pagi.


Memenjarakan rindu sesaat? Ahh.. malam pasti mengutukku untuk melawan pejam. Menertawakanku digelitiki rindu kejam.
 
Nona, denganmu aku kehabisan rima, belum tuntas aku membungkam rindu, kini aku berhadapan riuh kata manjamu. Kau pemilik bibir manis, inginku beranjak, mengumpukan anak-anak rindu keberanda. Menyaksikanku menyicip manis dari tuannya. 

Semua tentangmu datang serupa hujan deras. Memanggil rindu yang menanti dengan cemas. Untuk indahmu sajakku lahir tanpa batas.

Hingga aku, membiarkanmu tersiksa rindu. Menungguku membawa sejengkal madu, yang kau sambut untuk kita hirup di balik selimut.

 ***

* Ditulis bersama Arina Putri (@aquarinaa) "dalam sajak jingga"